Rabu, 02 Juli 2014

PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ANTENA YAGI ½ λ

Antena Yagi adalah salah satu contoh antena yang banyak dipakai oleh masyarakat. Antena Yagi terdiri dari antena dipole lipat (folded dipole) setengah gelombang (½λ) yang ditambah pemantul (reflector) dibelakangnya dan beberapa pengarah (director) di depannya. Pada frekuensi UHF (Ultra High Frequency) biasanya digunakan antena Yagi yang menggunakan reflektor bidang sudut. Bidang sudut di sini maksudnya adalah suatu permukaan baik berupa jala-jala dari kawat alumunium maupun dari permukaan berupa lembaran alumunium yang membentuk bidang sudut. Dari uraian di atas timbul permasalahan adakah perbedaan penguatan sinyal antara antena UHF jenis Yagi ½λ yang menggunakan reflektor bidang sudut permukaan kawat alumunium bentuk jala-jala dengan antena UHF jenis Yagi ½λ yang menggunakan reflektor bidang sudut permukaan lembaran alumunium padat pada daerah berpenghalang (deep fringe area).

Rumus perkiraan untuk menghitung panjang elemen dan spacing antena Yagi dua elemen adalah sebagai berikut :
Untuk mendapatkan panjang gelombang (λ) berlaku persamaan
λ = c/f, dengan c = 3.108 meter/detik.
Driven elemen 145 / f (dalam MHz) meter.
Director 137 / f (dalam MHz) meter.
Spacing 36.6 / f (dalam MHz) meter.
Jarak masing-masing elemen pada antena Yagi adalah sebagai
berikut :
Jarak reflektor ke driver = 0,35λ
Jarak driver ke direktor 1 = 0,14λ
Jarak direktor 1 ke direktor 2 = 0,18λ
Jarak direktor 2 ke direktor 3 = 0,25λ
Jarak direktor 3 ke direktor 4 = 0,27λ
Jarak direktor 4 ke direktor 5 = 0,30λ
Panjang driver adalah ½ λ, dengan λ adalah c/f. Jadi ½ (c/f) atau ½ (3 . 108)/f = 150/f meter, frekuensi dalam MHz. Ini adalah panjang listrik atau panjang ruang bebas bagi antena tersebut (electrical length/free space length). Antena terbentang antara tanah dan udara. Antena membutuhkan penyekat terhadap tanah. Udara dan penyekat menyebabkan efek kapasitif sehingga mempengaruhi kecepatan rambat gelombang elektromagnet. Oleh karena itu, panjang antena ½ λ dikoreksi dengan faktor K menjadi (150 K/f) meter dan ini adalah panjang mekanik (LDE) atau panjang fisik antena (physical length). Besar nilai K dapat dilihat pada grafik 1, yaitu tergantung pada besar perbandingan ½ λ terhadap diameter batang konduktor (bahan antena). Semakin besar diameter batang konduktor, semakin kecil perbandingan ½ λ terhadap diameter batang konduktor, dan semakin kecil nilai K, sehingga ukuran panjang antena semakin pendek.
Antena Yagi menggunakan antena dua kutub yang selanjutnya disebut driven element, ditambah dengan beberapa elemen parasitik. Elemen parasitik berguna untuk menaikkan efisiensi daya dan 
mengarahkan radiasi pada satu sisi.
 
                                
Gambar Desain perancangan antena yagi ½ λ

Elemen parasitik terdiri dari elemen pemantul dan elemen-elemen pengarah. Elemen pemantul berfungsi untuk memantulkan sebagian energy ke antena dua kutub. Sedangkan elemen pengarah berfungsi untuk mengarahkan sebagian energi ke antena dua kutub. Untuk penggunaan pada UHF, elemen reflektor tunggal Yagi biasanya digantikan dengan sebuah permukaan pemantul bidang (plane reflecting surface), baik yang berupa sebuah permukaan rata atau suatu sudut dari dua permukaan. Permukaan yang memantulkan ini dapat berupa logam padat, atau dapat juga berupa jala-jala kawat atau suatu jaringan batang-batang logam yang saling dihubungkan. Dengan reflektor sudut diperoleh keterarahan yang sedikit lebih tajam.

sumber:http://suandno.blogspot.sg/2012/09/perancangan-dan-pembuatan-antena-yagi.html

KONTROL PENYALAAN LAMPU DAN BEL PADA PABRIK MENGGUNAKAN AT89S51

        Sekilas mengenai rangkaian dan program ini yaitu disini terdapat 2 komponen utama, yaitu program pada delphi dan rangkaian minimum sistem AT 89S51. Program pada delphi berfungsi sebagai seting waktu kapan lampu dan bel harus menyala. Untuk rangkaian minimum sistem berguna sebagai saklar atau antarmuka dari program delphi yang ada di komputer dengan lampu dan bel yang berada pada tempatnya. Untuk menghubungkan antara PC dengan minimum system menggunakan PARALEL PORT. 


1.      Alat dan Bahan yang digunakan
Alat:
a.       Power Supply                                      1 Buah
b.      Solder                                                  1 Buah
c.       Solder Atractor                                   1 Buah
d.      Pinset                                                  1 Buah
e.       Project Board                                      1 Buah
f.       AVOmeter                                          1 Buah
Bahan:
a.       IC Mikrokontroler AT89S51              1 Buah
b.      Resistor 10 Ω                                      5 Buah
c.       Resistor 330Ω                                     2 Buah
d.      LED                                                    12 Buah
e.       Relay 12V                                           2 Buah
f.       Kabel                                                   2 meter
g.      Timah                                                  1 meter
h.      PCB polos                                           1 Buah
i.        Push Button                                        8 Buah
j.        Buzzer                                                 1 Buah
k.      IC 7805                                               3 Buah
l.        Transistor TIP 41                                9 Buah

2.      Diagram Blok
  

3.      Gambar rangkaian 



4.      Prinsip Kerja Rangkaian
 Rangkaian ini  terdiri dari dua rangkaian yaitu timer dan pengontrol. Timer bekerja dengan menggunakan program  Delphi7 yang didalam programnya terdapat dua settingan waktu yaitu untuk lampu listrik dan bel. Dalam mensetting waktu dilakukan satu kali yaitu pada saat program dijalankan. Untuk setting penyalaan lampu pada pukul 17.00 dan untuk mematikan  lampu pada pukul 06.00. Sedangkan untuk setting penyalaan bel pada pukul 08.00 (bel tanda masuk), pukul 12.00 (bel tanda istirahat) dan pukul 17.00 (bel tanda pulang).
Rangkaian pengontrol menggunakan IC Mikrokontroler AT89S51 yang program didalamnya menggunakan bahasa assembly. Didalam program tersebut terdapat dua program utama yaitu program  menyalakan dan mematikan  lampu  secara bergantian serta program menyalakan bel. Program tersebut akan bekerja berdasarkan inputan yang diberikan. Inputan berasal dari timer yang menggunakan program Delphi7 dan dijalankan  pada PC komputer. Output dari PC komputer dihubungkan dengan port paralel (DB25) dengan mengambil pin 2 dan 3 sebagai output dan ground (GND). Pin 2 dan 3 kemudian dihubungkan dengan rangkaian driver berupa transistor dan relay. Fungsi dari relay ini untuk memberikan logika 0 pada kaki P3.0 dan P3.1 pada IC Mikrokontroler.
Apabila program Delphi7 dijalankan dan rangkaian pengontrol dinyalakan maka rangkaian akan berjalan. Bila pin 2 pada DB25 berlogika 1, maka rangkaia driver akan berjalan dan P3.0 akan berlogika 0. Pada saat belogika 0, maka program pada IC mikro akan berjalan dan meng-ONkan driver sehingga lampu listrik akan menyala secara bergantian. Bila pin 2 pada DB25 berlogika 1 lagi, maka rangkaian driver akan berjalan dan P3.0 akan berlogika 0 lagi. Pada saat belogika 0, maka program pada IC mikro akan berjalan dan meng-OFFkan rangkaian driver sehingga lampu listrik akan mati secara bergantian.  Hal ini berlaku pada program penyalaan bel. Bila pin 3 pada DB25 berlogika 1, maka rangkaia driver akan berjalan dan P3.1 akan berlogika 0. Pada saat belogika 0, maka program pada IC mikro akan berjalan dan meng-ONkan driver sehingga bel akan menyala beberapa detik dan mati lagi. Hal ini akan berulang sesuai dengan settingan pada program Delphi7.


5.   Flow Chart Program

 
 sumber: http://dom2ngelmu.blogspot.sg/2011/11/kontrol-penyalaan-lampu-dan-bel-pada.html
 

Automatic Roof di aplikasikan pada Jemuran Baju


Gambar Flowchart Program

Berikut ini adalah penjelasan flowchart untuk sistem rangkaian automatic roof:
1.        Input “mulai”.
2.        Jika P0.0 atau P1.1 bernilai logika 0 maka ke input “tutup”, tetapi jika tidak ke input “buka”.
3.        Pada input “tutup” jika P1.2 bernilai logika 0 maka ke input “stop”, tetapi jika tidak kembali ke proses “mulai”.
4.        Pada input “buka” jika P1.3 bernilai logika 0 maka ke input “stop”, tetapi jika tidak kembali ke proses “mulai”.
5.        Input “stop” kembali ke “mulai”.

Kelebihan
1.   Alat automatic roof dapat membantu ketika tidak ada orang dirumah, agar baju yg sedang di jemur tidak kehujanan
Kekurangan
1.    Cara kerja sistem masih kurang sempurna, apabila ada burung yg menutupi sensor cahaya tsb maka alat akan bekerja menutup

Selasa, 01 April 2014

Cara Membuat Antena TV Indoor Sendiri

Membuat atau bikin sendiri antena tv indoor sebenarnya tidaklah sulit cukup dengan menggunakan bahan-bahan bekas saja memang hasilnya tidak semaksimal buatan pabrik apalagi dari bentuknya. Seperti di ketahui antena tv ada yang Outdor dan ada juga yang indor dimana penempatan kedua jenis antena ini sangatlah jelas.

Antena tv outdor ditempatkan diluar rumah dan biasanya membutuhkan ketinggian yang cukup agar antena benar-benar dapat menangkap siyal yang dipancarkan dari stasiun relay. sedangkan untuk antena indor biasanya ditempatkan didalam rumah dan tidak jauh dari perangkat tv, antena indor biasanya banyak digunakan didaerah perkotaan atau dekat dengan stasiun pancar ulang / relay.

Umumnya Frekuensi TV bekerja di VHF dan UHF nah antena indor yang akan dibuat kali ini untuk UHF terus terang saja siaran yang bagus-bagus banyak di UHF seperti INDOSIAR,RCTI,SCTV,GLOBALTV,ANTV,TVONE,TRANSTV,TRANS7. sedangkan VHF seperti TVRI.

Nah..Untuk Membuat Antena TV Indoor Sendiri Diperlukan Alat Dan Bahan - Bahan Sebagai Berikut :

Alat Dan Bahan - bahannya.
1.   Alumunium Bekas dari Plat Motor
2.   Pipa Bekas
3.   Kawat Jemuran
4.   Kaleng Bekas
5.   Kabel Coaxial 75 Ohm
6.   Konektor RF untuk ke jack antena
7.   Gergaji Besi
8.   Baut Scrup
9.   Palu
10. Obeng



Sebelum Merangkai ada baiknya lihat Dulu Penampakan Antena Indoornya.




Untuk Detailnya Ini Penampakannya



Setelah bahan-bahan yang diperlukan ada, Potong Pipa sesuai keinginan anda, dan Potong Pipa kira2 8cm untuk kedudukan plat sekaligus untuk menyambungkan kabel coaxialnya, setelah pipa 8cm tadi selesai dipotong pasang plat satu dan satunyalagi dan beri jarak antara kedua itu kira-kira 1.5cm, dan bagian tengah pipa itu berikan baut skrup atau lem ke pipa penyangga,

Dari Penampakan Diatas Cara Buat Antena TV Indor Sendiri Terlihat, yang Berfungsi sebagai Antenanya adalah Plat Alumunium yang awalnya dari Plat Motor Atau Sejenisnya, sebelum menempatkanya Potonglah Pplat Motor Tersebut dengan ukuran yang sama panjangnya kira 12 cm, ada baiknya Diketok Atau Di Amplas Terlebih dahulu Plat Nomer tesebut Biar Angka-angkaya Rata, Kalo Gak Ente Bisa Kena Tilang..

Kemudian Potong Kawat 4a sepanjang 27 cm, Kawat 4b sepanjang 17 cm, dan 4C sepanjang 11 cm, pasang seperti gambar tempatkan dipipa penyanggahnya, jarak antara kawat 4a dengan tengah bagian plat tadi kira-kira 3 cm dan begitu juga jarak kawat 4b kira-kira 3 cm, sedangkan jarak antara kawat 4b dengan 4c kira-kira 4 cm.

Untuk Kabel Coaxialnya jangan terlalu panjang secukupnya saja sebaiknya kurang dari 1 Meter, kalau kepanjangan fungsi antena berkurang karena sinyal yang diperoleh tidak begitu kuat dan tidak ada penambahan penguat seperti boster memungkinkan sinyalnya akan habis dikabel.

Dan Selanjutnya.. Inilah Hasilnya Dengan Menggunakan Laptop ( Tips Yang Pas Untuk Anak Kos )

Penampakan Antv:

Penampakan Global TV:


Penampakan Indosiar:


Penampakan RCTI:


Penampakan SCTV:


Penampakan Trans7:


Penampakan Trans TV:


Penampakan TV One:


Penampakan TVRI:



Itulah Cara Dan Hasil Dokumentasi Beberapa Siaran TV Dengan menggunakan Antena TV Indoor Buatan Sendiri dari Bahan-bahan Bekas yang digunakan, Selamat Mencoba Ya

Sumber : http://www.kaskus.co.id/post/51af03071ed7198f4a00000a#post51af03071ed7198f4a00000a