Rabu, 02 Juli 2014

KONTROL PENYALAAN LAMPU DAN BEL PADA PABRIK MENGGUNAKAN AT89S51

        Sekilas mengenai rangkaian dan program ini yaitu disini terdapat 2 komponen utama, yaitu program pada delphi dan rangkaian minimum sistem AT 89S51. Program pada delphi berfungsi sebagai seting waktu kapan lampu dan bel harus menyala. Untuk rangkaian minimum sistem berguna sebagai saklar atau antarmuka dari program delphi yang ada di komputer dengan lampu dan bel yang berada pada tempatnya. Untuk menghubungkan antara PC dengan minimum system menggunakan PARALEL PORT. 


1.      Alat dan Bahan yang digunakan
Alat:
a.       Power Supply                                      1 Buah
b.      Solder                                                  1 Buah
c.       Solder Atractor                                   1 Buah
d.      Pinset                                                  1 Buah
e.       Project Board                                      1 Buah
f.       AVOmeter                                          1 Buah
Bahan:
a.       IC Mikrokontroler AT89S51              1 Buah
b.      Resistor 10 Ω                                      5 Buah
c.       Resistor 330Ω                                     2 Buah
d.      LED                                                    12 Buah
e.       Relay 12V                                           2 Buah
f.       Kabel                                                   2 meter
g.      Timah                                                  1 meter
h.      PCB polos                                           1 Buah
i.        Push Button                                        8 Buah
j.        Buzzer                                                 1 Buah
k.      IC 7805                                               3 Buah
l.        Transistor TIP 41                                9 Buah

2.      Diagram Blok
  

3.      Gambar rangkaian 



4.      Prinsip Kerja Rangkaian
 Rangkaian ini  terdiri dari dua rangkaian yaitu timer dan pengontrol. Timer bekerja dengan menggunakan program  Delphi7 yang didalam programnya terdapat dua settingan waktu yaitu untuk lampu listrik dan bel. Dalam mensetting waktu dilakukan satu kali yaitu pada saat program dijalankan. Untuk setting penyalaan lampu pada pukul 17.00 dan untuk mematikan  lampu pada pukul 06.00. Sedangkan untuk setting penyalaan bel pada pukul 08.00 (bel tanda masuk), pukul 12.00 (bel tanda istirahat) dan pukul 17.00 (bel tanda pulang).
Rangkaian pengontrol menggunakan IC Mikrokontroler AT89S51 yang program didalamnya menggunakan bahasa assembly. Didalam program tersebut terdapat dua program utama yaitu program  menyalakan dan mematikan  lampu  secara bergantian serta program menyalakan bel. Program tersebut akan bekerja berdasarkan inputan yang diberikan. Inputan berasal dari timer yang menggunakan program Delphi7 dan dijalankan  pada PC komputer. Output dari PC komputer dihubungkan dengan port paralel (DB25) dengan mengambil pin 2 dan 3 sebagai output dan ground (GND). Pin 2 dan 3 kemudian dihubungkan dengan rangkaian driver berupa transistor dan relay. Fungsi dari relay ini untuk memberikan logika 0 pada kaki P3.0 dan P3.1 pada IC Mikrokontroler.
Apabila program Delphi7 dijalankan dan rangkaian pengontrol dinyalakan maka rangkaian akan berjalan. Bila pin 2 pada DB25 berlogika 1, maka rangkaia driver akan berjalan dan P3.0 akan berlogika 0. Pada saat belogika 0, maka program pada IC mikro akan berjalan dan meng-ONkan driver sehingga lampu listrik akan menyala secara bergantian. Bila pin 2 pada DB25 berlogika 1 lagi, maka rangkaian driver akan berjalan dan P3.0 akan berlogika 0 lagi. Pada saat belogika 0, maka program pada IC mikro akan berjalan dan meng-OFFkan rangkaian driver sehingga lampu listrik akan mati secara bergantian.  Hal ini berlaku pada program penyalaan bel. Bila pin 3 pada DB25 berlogika 1, maka rangkaia driver akan berjalan dan P3.1 akan berlogika 0. Pada saat belogika 0, maka program pada IC mikro akan berjalan dan meng-ONkan driver sehingga bel akan menyala beberapa detik dan mati lagi. Hal ini akan berulang sesuai dengan settingan pada program Delphi7.


5.   Flow Chart Program

 
 sumber: http://dom2ngelmu.blogspot.sg/2011/11/kontrol-penyalaan-lampu-dan-bel-pada.html
 

Automatic Roof di aplikasikan pada Jemuran Baju


Gambar Flowchart Program

Berikut ini adalah penjelasan flowchart untuk sistem rangkaian automatic roof:
1.        Input “mulai”.
2.        Jika P0.0 atau P1.1 bernilai logika 0 maka ke input “tutup”, tetapi jika tidak ke input “buka”.
3.        Pada input “tutup” jika P1.2 bernilai logika 0 maka ke input “stop”, tetapi jika tidak kembali ke proses “mulai”.
4.        Pada input “buka” jika P1.3 bernilai logika 0 maka ke input “stop”, tetapi jika tidak kembali ke proses “mulai”.
5.        Input “stop” kembali ke “mulai”.

Kelebihan
1.   Alat automatic roof dapat membantu ketika tidak ada orang dirumah, agar baju yg sedang di jemur tidak kehujanan
Kekurangan
1.    Cara kerja sistem masih kurang sempurna, apabila ada burung yg menutupi sensor cahaya tsb maka alat akan bekerja menutup

Selasa, 01 April 2014

Cara Membuat Antena TV Indoor Sendiri

Membuat atau bikin sendiri antena tv indoor sebenarnya tidaklah sulit cukup dengan menggunakan bahan-bahan bekas saja memang hasilnya tidak semaksimal buatan pabrik apalagi dari bentuknya. Seperti di ketahui antena tv ada yang Outdor dan ada juga yang indor dimana penempatan kedua jenis antena ini sangatlah jelas.

Antena tv outdor ditempatkan diluar rumah dan biasanya membutuhkan ketinggian yang cukup agar antena benar-benar dapat menangkap siyal yang dipancarkan dari stasiun relay. sedangkan untuk antena indor biasanya ditempatkan didalam rumah dan tidak jauh dari perangkat tv, antena indor biasanya banyak digunakan didaerah perkotaan atau dekat dengan stasiun pancar ulang / relay.

Umumnya Frekuensi TV bekerja di VHF dan UHF nah antena indor yang akan dibuat kali ini untuk UHF terus terang saja siaran yang bagus-bagus banyak di UHF seperti INDOSIAR,RCTI,SCTV,GLOBALTV,ANTV,TVONE,TRANSTV,TRANS7. sedangkan VHF seperti TVRI.

Nah..Untuk Membuat Antena TV Indoor Sendiri Diperlukan Alat Dan Bahan - Bahan Sebagai Berikut :

Alat Dan Bahan - bahannya.
1.   Alumunium Bekas dari Plat Motor
2.   Pipa Bekas
3.   Kawat Jemuran
4.   Kaleng Bekas
5.   Kabel Coaxial 75 Ohm
6.   Konektor RF untuk ke jack antena
7.   Gergaji Besi
8.   Baut Scrup
9.   Palu
10. Obeng



Sebelum Merangkai ada baiknya lihat Dulu Penampakan Antena Indoornya.




Untuk Detailnya Ini Penampakannya



Setelah bahan-bahan yang diperlukan ada, Potong Pipa sesuai keinginan anda, dan Potong Pipa kira2 8cm untuk kedudukan plat sekaligus untuk menyambungkan kabel coaxialnya, setelah pipa 8cm tadi selesai dipotong pasang plat satu dan satunyalagi dan beri jarak antara kedua itu kira-kira 1.5cm, dan bagian tengah pipa itu berikan baut skrup atau lem ke pipa penyangga,

Dari Penampakan Diatas Cara Buat Antena TV Indor Sendiri Terlihat, yang Berfungsi sebagai Antenanya adalah Plat Alumunium yang awalnya dari Plat Motor Atau Sejenisnya, sebelum menempatkanya Potonglah Pplat Motor Tersebut dengan ukuran yang sama panjangnya kira 12 cm, ada baiknya Diketok Atau Di Amplas Terlebih dahulu Plat Nomer tesebut Biar Angka-angkaya Rata, Kalo Gak Ente Bisa Kena Tilang..

Kemudian Potong Kawat 4a sepanjang 27 cm, Kawat 4b sepanjang 17 cm, dan 4C sepanjang 11 cm, pasang seperti gambar tempatkan dipipa penyanggahnya, jarak antara kawat 4a dengan tengah bagian plat tadi kira-kira 3 cm dan begitu juga jarak kawat 4b kira-kira 3 cm, sedangkan jarak antara kawat 4b dengan 4c kira-kira 4 cm.

Untuk Kabel Coaxialnya jangan terlalu panjang secukupnya saja sebaiknya kurang dari 1 Meter, kalau kepanjangan fungsi antena berkurang karena sinyal yang diperoleh tidak begitu kuat dan tidak ada penambahan penguat seperti boster memungkinkan sinyalnya akan habis dikabel.

Dan Selanjutnya.. Inilah Hasilnya Dengan Menggunakan Laptop ( Tips Yang Pas Untuk Anak Kos )

Penampakan Antv:

Penampakan Global TV:


Penampakan Indosiar:


Penampakan RCTI:


Penampakan SCTV:


Penampakan Trans7:


Penampakan Trans TV:


Penampakan TV One:


Penampakan TVRI:



Itulah Cara Dan Hasil Dokumentasi Beberapa Siaran TV Dengan menggunakan Antena TV Indoor Buatan Sendiri dari Bahan-bahan Bekas yang digunakan, Selamat Mencoba Ya

Sumber : http://www.kaskus.co.id/post/51af03071ed7198f4a00000a#post51af03071ed7198f4a00000a

Rabu, 18 Desember 2013

Tugas 3 DEPRESIASI

A. PENGERTIAN DEPRESIASI

Depresiasi atau penyusutan adalah alokasi sistematis jumlah yang dapat disusutkan dari suatu aset selama umur manfaatnya.
Depresiasi secara umum dapat digolongkan dalam 2 kelompok, yaitu :
  1. Depresiasi yang disebabkan antara lain mesin-mesin atau peralatan yang digunakan semakin tua sehingga kemampuannya berkurang (physical degradation).
  2. Depresiasi yang disebabkan antara lain karena semakin majunya perkembangan teknologi, sehingga diperlukan mesin-mesin atau peralatan-peralatan baru yang lebih efisien dan ekonomis daripada yang dipakai sekarang atau karena adanya perubahan demand di masyarakat baik dari segi kualitas maupun kuantitas sehingga diperlukan tambahan mesin-mesin dan peralatan-peralatan baru (functional depreciation).
B. KRITERIA BARANG TERKENA DEPRESIASI
Properti yang dapat didepresiasi harus memenuhi ketentuan berikut :
  1. Harus digunakan dalam usaha atau dipertahankan untuk menghasilkan pendapatan.
  2. Harus mempunyai umur manfaat tertentu dan umurnya harus lebih lama dari satu tahun.
  3. Merupakan sesuatu yang digunakan sampai habis, mengalami peluruhan/kehancuran, usang atau mengalami pengurangan nilai dari nilai asalnya.
  4. Bukan inventaris, properti investasi, persediaan atau stok penjualan.
Properti yang dapat didepresikan dikelompokkan menjadi :
  1. Nyata (tangible) : dapat dilihat atau dipegang. Terdiri dari properti personal seperti mesin-mesin, kendaraan, peralatan, furnitur dan item-item yang sejenis, serta properti riil seperti tanah dan segala sesuatu yang dikeluarkan dari atau tumbuh atau berdiri di atas tanah tersebut.
  2. Tidak nyata (intangible). Properti personal seperti hak cipta, paten atau franchise.
C. METODE PERHITUNGAN DEPRESIASI 
 
  1. Metode Garis Lurus (Straight Line Depreciation)
    Dalam metode garis lurus maka nilai terdepresi / nilai yang didepresiasikan dari sebuah aktiva dibagi rata sepanjang taksiran umur manfaat aktifa tersebut.


    Contoh :
    PT Jaya Abadi membeli mesin dengan harga perolehan sebesar Rp 35.000.000,- Diperkirakan mempunyai umur ekonomis selama 5 tahun dengan nilai residu sebesar Rp 3.000.000,- Maka penyusutan pertahunnya adalah:
    Depresiasi = ( Rp 35.000.000 - Rp 3.000.000 ) / 5 = Rp 6.400.000,- 
  2. Sum of Years Depreciation
    Jumlah depresiasi dihitung berdasarkan pada serangkaian angka pecahan yang denominator atau penyebutnya diambil dari jumlah rentetan angka tahun tersebut. Angka tahun yang terbesar digunakan sebagai numerator atau pembilang dari angka pecahan untuk depresiasi tahun pertama.
    Contoh :
    Sebuah truk dibeli oleh PT Turbo pada tanggal 1 Januari 19x1. Harga beli Rp 12.000.000, biaya perbaikan Rp 1.000.000,taksiran nilai residu Rp 1.000.000, taksiran masa manfaat 5 tahun. Tentukan depresiasi
  3. Unit Produksi Depresiasi
    Dalam metode ini nilai depresiasi tergantung kepada banyaknya produksi yang sudah dihasilkan oleh aktiva tersebut (biasanya berupa mesin produksi). Semakin banyak produksi yang dihasilkan oleh mesin tersebut maka akan semakin banyak pula depresiasinya.

    Contoh :
    Sebuah truk dibeli oleh PT Turbo pada tanggal 1 Januari 19x1, harga beli Rp 12.000.000, biaya perbaikan Rp 1.000.000, taksiran nilai residu Rp 1.000.000, taksiran masa manfaat 100.000 Km. Tentukan depresiasi missal tahun 19x1 truk dipakai 15.000 Km, 19x2 30.000 Km, 19x3 20.000 Km, 19x4 25.000 dan 19x5 10.000 Km.
 
 
Deplesi merupakan istilah lain dari penyusutan atau amortisasi. Deplesi digunakan khusus untuk sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui, misalnya bijih besi, hasil tambang, kayu hutan, dan sebagainya.Deplesi dihitung dengan tarif deplesi yang diperoleh dari beban yang dikeluarkan untuk mendapatkan hak penambangan dibagi estimasi hasil yang akan diperoleh.  
D = Beban Deplesi = Rp 13.250.000.000,-
K = Akumulasi Deplesi = Rp 13.250.000.000,-
 
Keterangan :
Besarnya deplesi tergantung pada jumlah ton yang berhasil ditambang.
 
Ilustrasi 2 : 
Pada tanggal 5 Januari 20A PT Perkasa membeli tanah yang mengandung bijih besi seharga Rp 100 milyar. Estimasi nilai sisa tanah seharga Rp 20 milyar. Hasil survey geologi pada saat pembelian terdapat 2 juta bijih besi yang dapat diambil. Pada tahun 20A dikeluarkan biaya untuk pembuatan jalan dan proses pengeluaran bijih besi sejumlah Rp 750 juta. Pada tahun 20A, 50.000 ton telah ditambang. Survey baru dilakukan pada akhir tahun 20B dan diperkirakan ada 3 juta ton bijih besi yang terkandung di dalam tambang. Pada tahun 20B, 125.000 ton bijih besi berhasil ditambang. Hitunglah beban deplesi tahun 20A dan 20B !
 
Beban deplesi tahun 20A :
Harga sumber daya - nilai sisa = Rp 80.000.000.000,-
Perbaikan lahan jalan = Rp 750.000.000,-
Jumlah = Rp 80.750.000.000,-

Estimasi bijih besi = 2.000.000 ton
Biaya deplesi per ton = Rp 40.375,-

Beban deplesi tahun 20A = 50.000 ton x Rp 40.375 = Rp 2.018.750.000

Beban deplesi tahun 20B:
Harga sumber daya (neto) = Rp 80.750.000.000,-
Beban deplesi tahun 20A = Rp 2.018.750.000,-
Sisa pada awal tahun 20A = Rp 78.731.250.000,-
Sisa bijih besi setelah survey (ton) = 3.125.000 ton
( 3.000.000 + 125.000)
Biaya deplesi per ton = Rp 25.194,-
Biaya deplesi tahun 20B = 125.000 x Rp 25.194 = Rp 3.149.250.000,- 
  
Sumber: